Sifat Fisika Tanah
Fungsi Tanah
Fungsi tanah sebagai media tempat tumbuh tanaman dalanm pengelolaannya harus mampu menyediakan kebutuhan tanaman seperti air dan udara serta unsur hara. Dengan demikian sifat fisika tanah sangat penting untuk dipelajari dan dipahami agar dalam pengelolaan tanah akan dapat memberikan media tumbuh yang cocok dan kondusif bagi tanaman. Fisika tanah merupakan ilmu dasar yang aplikasinya diterapkan dalam ilmu pertanian seperti budidaya dan teknik pertanian, dan berkaitan dengan cabang ilmu tanah lainnya. Oleh karena kajian fisika tanah berkaitan dengan pergerakan air di permukaan dan di dalam tanah, maka ilmu ini sangat penting untuk mendukung pengelolaan tanah dan lingkungan. Selain itu fisika tanah berkaitan erat dengan konservasi tanah dan air, erosi tanah, degradasi tanah dan hutan, irigasi, drainase, dan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS).
Menurut Hillel (1982), untuk berperan sebagai media yang baik bagi pertumbuhan tanaman, tanah harus menyimpan dan menyediakan air, udara dan unsur hara, serta bebas dari konsentrasi bahan beracun yang berlebihan. Sistem tanah-air-tanaman lebih rumit sebab akar-akar tanaman harus bernapas terus. Tetapi kebanyakan tanaman di bumi ini tidak mampu menyalurkan oksigen dari bagian tanaman yang berada di atas tanah ke bagian perakaran dengan kecepatan yang mencukupi bagi pernapasan akar. Oleh sebab itu, tanah harus mempunyai aerasi yang baik. Hal ini berarti akan dijamin pertukaran oksigen dan karbon dioksida terus-menerus, melalui pori-pori tanah (berisi udara) yang berhubungan langsung dengan atmosfer. Tanah yang sangat basah (kekurangan oksigen) akan melumpuhkan perakaran, sebaliknya tanah yang sangat kering (kekurangan air) akan mengeringkan akar.
Adapun koloid organik dan anorganik tanah beserta beberapa bahan lainnya sangat berperan sebagai bahan pengikat partikel yang dapat menghasilkan agregat tanah. Proses agregasi tanah terjadi melalui proses flokulasi dan koagulasi yang merupakan pengelompokan butir-butir mineral primer tanah. Dari pembentukan agregat tersebut terbentuk rongga-rongga pori tanah yang memungkinkan fase cair dan udara menempatinya.
Fase-fase Tanah
Apabila kita kelompokkan, komponen penyusun tanah tersebut terdiri atas tiga fase, yaitu fase padat (bahan mineral dan bahan organik), fase cair (air), dan fase gas (udara). Dari ketiga fase tersebut, fase gas dan fase cair bersifat dinamis tergantung kepada kondisi iklim serta tindakan pengolahan tanah.
Di dalam matriks tanah ada fase padat, fase cair, dan udara. Fase padat itu sendiri sebagai penyusun matriks tanah, sedangkan fase cair berupa air tanah, dan fase gas berupa atmosfer (udara) tanah. Dalam air tanah selalu mengandung bahan-bahan terlarut, sehingga bahan ini disebut larutan tanah. Matriks padat dari tanah terdiri dari partikel-partikel dengan komposisi kimia dan mineralogi, ukuran, bentuk, dan orientasinya yang berbeda. Matriks padat juga berisi bahan amorf, terutama bahan organik yang terikat pada butiran mineral dan mengikat mineral tersebut menjadi agregat.
Susunan komponen-komponen padatan tanah menentukan sifat-sifat geometris ruang pori di mana air dan udara beragam dalam komposisi menurut ruang dan waktu (Hillel, 1982). Misalnya, komposisi volume tanah dengan tekstur sedang seperti tekstur lempung (loam). Lempung mempunyai komposisi yang hampir seimbang antara fraksi pasir, debu, dan klei (liat, clay). Lempung sering dianggap sebagai tekstur tanah yang optimal untuk pertanian di lahan kering. Kondisi ini dianggap mempunyai komposisi optimum untuk pertumbuhan tanaman, terutama pada lahan kering. Hal ini, disebabkan oleh kapasitasnya menyerap hara pada umumnya lebih baik daripada tekstur pasir, sementara drainase, aerasi dan kemudahan dalam pengolahan tanahnya lebih baik daripada klei. Akan tetapi, pendapat ini tidak berlaku umum, karena untuk keadaan lingkungan dan jenis tanaman tertentu pasir atau klei mungkin lebih baik dari pada lempung, bila kandungan bahan organik tanahnya cukup tinggi.
Susunan volume suatu tanah lempung berdebu yang berada dalam keadaan optimum bagi pertumbuhan tanaman dengan bagian padat terdiri dari 45 persen bahan mineral dan 5 persen bahan organik dan sisanya 50 persen ruang pori (udara dan air). Dalam keadaan kelembaban optimum bagi pertumbuhan tanaman, dari 50 persen ruang pori, 25 persen ditempati air dan 25 persen lagi udara. Nisbah udara dan air di alam berubah-ubah bergantung dari iklim dan faktor lainnya, adapun volume lapisan bawah dapat diduga akan berbeda dari lapisan olah. Dibandingkan dengan lapisan olah, lapisan bawah mengandung bahan organik lebih sedikit, berat isi lebih padat, dan persentase pori kecil yang lebih tinggi. Ini berarti lapisan bawah mengandung lebih banyak bahan mineral dan air.
Warna Tanah
Warna tanah merupakan petunjuk sifat tanah yang paling mudah dideterminasi. Warna tanah dapat dijadikan sebagai indikator kualitatif dalam menentukan tingkat kesuburan tanah, kandungan bahan organik, aerasi dan drainase. Tanah dengan warna hitam menunjukkan kandungan bahan organik tanah yang tinggi. Tanah yang banyak mengandung oksida-oksida Fe atau mineral hematit akan menunjukkan warna merah dan yang mengandung mineral goethite, besi oksida terhidrasi dengan mineral limonit akan menunjukkan warna kuning. Adapun tanah yang mempunyai drainase jelek akan menunjukkan warna terang atau pucat, karena besi yang tereduksi.
Pada tanah jenuh air, atau sepanjang tahunnya tergenang air, akan berwarna kelabu atau gley seperti tanah yang berada pada daerah cekungan atau sawah. Ada empat faktor utama yang memengaruhi warna tanah, yaitu: (a) kandungan bahan organik; (b) kandungan air dan kondisi drainase tanah, baik dalam kondisi jenuh atau tidak jenuh; (c) adanya oksida besi dan mineral tanah seperti kuarsa, hematit, limonit, glauconite; dan (d) kondisi fisiografi wilayah seperti wilayah cekungan atau dataran dan topografi berlereng.
Penentuan warna tanah di lapangan adalah dengan menggunakan Munsell soil color charts (Foto 3.1) dengan warna tanah disusun oleh tiga variabel yaitu HUE, value dan chroma. Arti dari variabel tersebut adalah:
1. HUE, merupakan warna spektrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombang., HUE terdiri dari 10 R; 2,5 YR; 5 YR; 7,5 YR; 10 YR; 2,5 Y; 5Y; dan gley,
2. Value, menunjukkan gelap atau terangnya warna tanah, sesuai dengan banyaknya sinar yang dipantulkan, dan
3. Chroma, kemurnian atau kekuatan dari warna spektrum.
Contoh: Jika tanah dengan notasi 10 YR 5/6, berarti 10 YR = HUE, 5 = value, dan 6 = chroma, dan berdasarkan penentuan warna tanah dalam Munsell soil color charts, maka 10 YR 5/6 tersebut berwarna cokelat kekuningan. Tanah dengan notasi 2,5 YR 3/6 berwarna merah gelap, dan 5Y 5/1 berwarna kelabu.
Tekstur Tanah
Dua sifat fisik tanah yang penting adalah tekstur dan struktur tanah. Tekstur tanah dianggap sebagai ciri dasar tanah yang dengan manipulasi tanah sifat ini tidak mudah berubah. Secara umum, tanah mineral memiliki partikel primer (tekstur) dengan ukuran bervariasi, baik antar setiap jenis tanah maupun antar lapisan dalam profil tanah.
Tekstur tanah yang biasa disebut dengan butir tanah berhubungan erat dengan pergerakan air dan zat terlarut, udara, pergerakan panas, berat volume tanah, luas permukaan spesifik (specific surface), kemudahan tanah memadat (compressibility), dan lain-lain (Hillel, 1982). Butir tanah tersebut terdiri dari fraksi klei, debu, dan pasir. Secara umum tanah memiliki variasi ukuran partikel primer tanah, dengan ukuran yang variasi. Ukuran partikel primer tersebut dapat dikelompokkan dalam bentuk partikel pasir, debu, dan klei.
Tekstur adalah perbandingan relatif antara fraksi pasir, debu, dan klei. Dalam analisis tekstur, fraksi bahan organik tidak diperhitungkan, karena bahan organik terlebih dahulu telah didestruksi dengan hidrogen peroksida (H,0,).
Tekstur tanah dapat ditentukan atau dinilai secara kualitatif dan kuantitatif. Cara kualitatif biasa digunakan surveyor tanah dalam menetapkan kelas tekstur tanah di lapangan. Adapun penentuan tekstur tanah secara kuantitatif dilakukan melalui proses analisis mekanis di laboratorium. Proses ini terdiri atas pendispersian agregat tanah menjadi butir-butir tunggal dan kemudian dikuti dengan sedimentasi.
Prinsip analisisnya adalah proses dispersi dan sedimentasi adalah dua tahap penting sebelum tekstur tanah ditentukan dengan salah satu metode, metode hidrometer atau metode pipet. Dengan metode analisis mekanik, pasir diperoleh dengan menyaring, sedangkan untuk debu dan klei dipisahkan atas dasar kecepatan mengendap dalam air.
Menurut Gardiner dan Miller (2008), bahwa tekstur tanah sangat penting diperhatikan karena akan menentukan sifat-sifat tanah. Tekstur tanah berpengaruh besar terhadap laju masuknya air ke dalam tanah, penyimpanan air di dalam tanah, mudahnya pengolahan tanah, aerasi dan pemupukan tanah. Sebagai contoh, pada tanah dengan tekstur kasar seperti pasir mudah atau ringan untuk diolah, dan aerasi tanah tinggi. Tanah berpasir bailk untuk pertumbuhan akar tanaman dan mudah dibasahi. Tetapi kelemah-annya, tanah berpasir sangat cepat mengalami kekeringan dan unsur hara sangat mudah tercuci. Mudahnya tanah berpasir mengering karena perkolasi air tanahnya tinggi. Sebaliknya pada tanah-tanah dengan kandungan klei tinggi memiliki ukuran partikel primer sangat kecil dan posisinya saling berdekatan.
Konsekuensinya, tanah dengan klei tinggi mempunyai sedikit pori-pori kasar (makro), sehingga menghasilkan air yang masuk ke dalam tanah menjadi lambat sekali. Dengan pori-pori halus sangat tinggi, tanah klei sulit untuk dibasahi dan dikeringkan karena perkolasinya rendah. Selain itu, tanah dengan klei tinggi agak sulit untuk diolah.
Dari Tabel 3.1 menunjukkan bahwa karena ukurannya <0,002 mm, fraksi klei bersifat koloid, sedang fraksi debu dan pasir tidak bersifat koloid. Oleh karena itu, fraksi klei merupakan bagian aktif dalam tanah, sehingga sifat dan perilaku tanah sangat dipengaruhi oleh kandungan kleinya. Adapun bahan organik tanah juga merupakan bagian koloid yang memengaruhi sifat-sifat tanah. Tekstur tanah berpengaruh nyata terhadap pergerakan air dan zat terlarut dalam tanah, udara, pergerakan panas, berat volume tanah (BV), luas permukaan spesifik (specific surface), kemudahan tanah memadat.
Rusman (2012) menyatakan bahwa bila terjadi perbedaan komposisi dari ketiga fraksi tersebut dalam suatu tanah akan menyebabkan kecepatan dan kapasitas infiltrasi tanah berbeda pula, begitu juga terhadap nilai erodibilitas tanah, dispersi, serta erosinya.
Dari beberapa hasil percobaan menunjukkan bahwa:
1. Tanah-tanah bertekstur pasir lebih tahan terhadap erosi dibandingkan dengan tanah bertekstur debu, hal ini disebabkan oleh: (a) tanah bertekstur pasir mempunyai pori makro yang lebih tinggi, sehingga kapasitas infiltrasinya tinggi; dan
(b) tekstur pasir dengan diameternya lebih besar (0,02-2,0 mm) akan lebih tahan terhadap penghanyutan bila dibandingkan dengan tekstur debu. Walaupun demikian, tanah-tanah bertekstur pasir mempunyai kemantapan agregat yang sangat lemah dan mudah lepas, di mana ikatan antara partikel-partikel primernya sangat lemah, sehingga mudah akan terdispersi dan tererosi.
2. Tanah-tanah yang banyak mengandung tekstur debu, akan paling mudah mengalami erosi, sebab (a) tekstur debu mempunyai ukuran 0,002 0,2 mm, akan mudah dihanyutkan oleh air: (b) tanah tekstur debu mudah mengalami jenuh air sehingga kapasitas infiltrasinya cepat menurun; dan (c) kemantapan agregat tanahnya sangat lemah, karena daya kohesi antara partikel primer sangat lemah.